image1 image2 image3 image4 image5 image6

EVERY NEW DAY IS ANOTHER CHANCE|ANOTHER CHANCE TO #CHANGE|#CHANGE IS NEVER EVER EASY|YOU FIGHT TO HOLD ON|AND YOU FIGHT TO LET GO|PROGRESS IS IMPOSSIBLE|WITHOUT #CHANGE|WE NEED WE WANT WE HAVE TO #CHANGE|BETTER #CHANGE JUST START

#Q&A : Kejujuran, sebuah Catatan

Assalamualaykum...


Sebelumnya terima kasih Nabil, sudah menyempatkan waktunya hehe
Jadi, ceritanya kami mau buat majalah, namanya
Majalah Grafika. Nah, tema yang diangkat adalah 
Kejujuran”

Jadi kan tema kita kejujuran nih, kalo menurut Nabil apa sih makna kejujuran itu?
Menurut saya kejujuran adalah, dasarnya bagian dari sifat positif alamiah manusia. Nilai dari kejujuran sangatlah mahal dan tidak tergantikan. Uang bisa saja membeli ketidakjujuran tetapi, bisakan membeli sebuah kejujuran? Jujur ini adalah tali pengikat manusia dangan hati nuraninya. Semakin tidak jujur seseorang, maka terlepaslah hati nurani itu dari tubuhnya. Menurutkan derajat manusia dari makhluk paling sempurna menjadi lebih hina dari hewan.

Ketika ucapan tidak sesuai dengan kenyataan, lubuk hati menjadi risau karena ucapan yang keluar. Ketika ketidakjujuran diagungkan, pasti hidup kita tidak akan pernah tenang. Ketidakjujuran ini akan mengakar dalam hati dan menjerat pemiliknya dalam domino kebohongan tanpa akhir.

Apalagi di sini, mahasiswa adalah gerbang terakhir moralitas bangsa. Jika kita, mahasiswa, yang katanya adalah motor penggerak bangsa kedepannya sudah bermoral pembohong dan tidak jujur. Maka, tidak ada harapan bangsa ini akan maju, tidak ada harapan bangsa ini akan bangkit. Percumalah kita berkoar dan menghujat birookrat yang berada diatas kita adalah koruptor, jika kejujuran itu tidak dimulai dari diri kita cendiri.


Dalam hal apa saja sih penerapannya?
“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga. Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). (H.R Muslim)

Penerapan jujur sebenarnya ada tiga. Jujur kepada Allah, jujur kepada masyarakat, dan jujur kepada diri sendiri.

Yang pertama, jujur kepada Allah. Bentuk ini adalah bentuk yang paling berat dan menyeluruh. Kenapa? Karena yang mengawasi kejujuran ini hanyalah Allah semata, dalam artian tidak kasatmata. Seperti penerapan jujur dalam beribadah, apakah sudah shalat atau belum, apakah sudah puasa atau belum.

Yang kedua, jujur kepada masyarakat. Jujur yang melibatkan kita dan orang disekitar kita. Misalnya jujur ketika ujian, dengan tidak mencontek. Jujur dengan tidak titip absen. Jujur ini yang paling mudah dilihat oleh orang lain. Jika kita adalah orang yang jujur maka akan mudah untuk mendapat kepercayaan orang lain, begitupun sebaliknya.

Yang ketiga, jujur pada diri sendiri. Jujur ini mungkin sering kita tidak sadar dan dering diabaikan. Berusahalah untuk jujur dan menjadi diri kita sendiri.Selalu bersyukur dengan apa yang ada di dalam diri, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Jujur saja, jika kita masih memiliki kekurangan, apa adanya dan tidak dibuat buat. Tatap berkarya dengan usaha murni yang berasal dari diri kita sendiri.
Intinya, penerapan dari kejujuran itu sebenarnya simple. Dimana saja kita berada, kapanpun, kejujuran itu sangatlah diperlukan dan mutlak dibutuhkan.

Nabil udah menerapkan belum?
Insyallah, saya berusaha semaksimal mungkin untuk jujur. Tdak mencontek, dan Alhamdulillah tidak pernah titip absen.

Trus, banyak orang yang bilang nih, Nabil itu orangnya sibuk di mana-mana, tapi IP bagus, prestasi lainnya juga bagus, apa sih resepnya?
Kita di dunia ini hanya sementara, dan kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil. Diwaktu yang ada, y dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Dengan seoptial mungkin dan sebermanfaat mungkin.

Resep saya mungkin ini, Hadis Nabi “Khairunnâs Anfa’uhum lin nâs”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lain). Apakah kita ingin, dengan waktu kita yang sangat singkat ini, kita tidak ada pengaruh apapun kepada sekitar? Baik masyarakat, bangsa, maupun agama? Yang penting bagi saya, adalah ikhtiar untuk menuju kebermanfaatan.

Dalam ikhtiar ini, yang penting itu kita melakukan yang terbaik yang kita bisa, semaksimal mungkin. Untuk hasil, ya kita serahkan pada Allah. Mau IP seperti apa, mau prestasi mendapat apa, setelah ikhtiar, kita serahkan saja ke Allah. Kalau berhasil, Alhamdulillah, kalau masih gagal, berarti Allah masih saying ke kita dengan membiarkan kita agar bisa belajar dari kegagalan.

Eh iya, di asrama juga kan ya? Nah, gimana tuh ngebagi waktunya?
Kalau waktu sih, saya menggunakan resep “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan." (Imam Asy-Syafi'iy)” nah seperti itu. Jadi kalau masalah bagi waktu, intinya saya ingin memastikan tiap detik adalah waktu yang bermanfaat.

Mungkin bagus juga kalau kita punya “Peta Hidup”. Nah, di peta hidup ini, target kita tiap tahun itu jelas, target tiap bulan, tiap minggu sudah jelas. Tiap pagi, sehabis subuh, biasanya saya merancang kegiatan-kegitan apa yang harus dicapai dibuku saku catatan pribadi saya. Jadi untuk pembagian waktu dan keefektifanya jelas. Seperti itu =)

Kenapa juga Nabi mau masuk LPI?
Untuk kenapa, mungkin begini sih. Selepas saya di MAN Insan Cendekia Serpong dulu, saya kan mengontrak. Selama setahu itu, saya merasa pengetahuan agama saya stagnan dan relative tidak sekenceng dan seteratur saat masih di boarding. Sedih juga y, melihat keadaan saya seperti itu dulu, jadi waktu itu saya putuskan untuk daftar asrama lagi. Kebetulan waktu itu Asrama LPI membuka program beasiswa dan dengan bismillah di coba deh =). Alhamdulillah sudah betah, dan tujuan awal masuk kurang lebih tercapai.

Majalan Grafika, 14 Juni 2014



Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment