image1 image2 image3 image4 image5 image6

EVERY NEW DAY IS ANOTHER CHANCE|ANOTHER CHANCE TO #CHANGE|#CHANGE IS NEVER EVER EASY|YOU FIGHT TO HOLD ON|AND YOU FIGHT TO LET GO|PROGRESS IS IMPOSSIBLE|WITHOUT #CHANGE|WE NEED WE WANT WE HAVE TO #CHANGE|BETTER #CHANGE JUST START

Belajar Untuk Ibadah, Prestasi untuk Dakwah

“Awalnya, medali itu begitu saya mimpikan, begitu saya inginkan. Semua usaha dan peluh hanya untuknya. Tetapi, kini rasanya sekeping benda itu hanyalah logam kosong, hampa dalam lemari kaca yang gelap. Hingga akhirnya saya tersadar, Medali yang sesungguhnya adalah semua rangkaian cerita indah yang merangkai semua perjalan itu. Perjalanan yang dimulai dari dan bersama kalian.”


Sebuah Tanya
“Menurutmu Sob, apa sih definisi dari ‘prestasi’ itu?” Tanya salah seorang sahabat saya suatu hari diantara jeda kosong waktu kuliah. “Iya, ngapain sih kamu belajar susah-susah? Nyante aja lah, enjoy your life” Timpal sahabat saya yang lain, sambil memainkan gadgetnya. Dua pertanyaan yang singkat sebenarnya, tetapi membuat saya terdiam cukup lama. Semilir angin berhembus diantara kita bertiga, detik demi detik berlalu, belum pernah sekelumit pertanyaan membuat saya terdiam membisu.

Sungguh tamparan keras, bahwa sedari kecil menghabiskan bertahun-tahun ‘belajar’ di sekolah, malang-melintang berjuang di berbagai kompetisi mengejar apa yang disebut dengan ‘prestasi’. Saya hampir tidak pernah benar-benar memaknai arti kata tersebut sedikitpun. Sempat terpikirkan, benarkah kita sudah benar-benar ‘belajar’, benarkan daftar ‘prestasi’ yang telah diukir layak dibanggakan?


Awal Mula
Saat memikirkan jawaban dari dua pertanyaan itu, benak saya kembali ke masa-masa ketika saya masih berada di MAN Insan Cendekia Serpong. Itulah masa ketika saya yang berasal dari kota di timur jawa sana, mendapat kesempatan untuk belajar di Ibukota, Kota Tangerang Selatan tepatnya. Di sanalah saya terlibat dengan salah satu kompetisi paling elit dan prestisius untuk cendekiawan muda bangsa ini: Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Mengingat ini adalah salah satu kompetisi yang sangat ditunggu-tunggu, OSN bukan sesuatu kata yang asing bagi saya. Sejak di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), saya sudah biasa dengan kata ini. Tetapi, mengikutinya hanyalah sebuah mimpi, apalagi mendapatkan medalinya – tidak tergapai. Ibarat dikata, bagai pungguk merindukan bulan.


Dimulai dari Mimpi
Bulan September selalu menjadi momok penting bagi sekolah kami. Di bulan ini, perhelatan OSN biasanya selesai dilaksanakan. Hasilnya selalu membuat semua orang ‘deg-degan’. Medali yang dibawa pulang oleh olimpiannya, akan menjadi acuan seberapa kuat posisi sekolah kami diantara Sekolah Negeri, Sekolah Katolik, Sekolah Kristen, dan Sekolah Asing lainnya di negeri ini. Medali itu pula yang menjadi salah satu daya tawa sekolah kami dihadapan Kementrian Agama, penyandang dana beasiswa penuh bagi siswa-siswinya saat itu. Dibalik itu semua, poin utama adalah menunjukkan bahwa Madrasah Aliyah, yang biasa dianggap remeh di tempat lain, juga bisa ber’taji’ kok dan Insan Cendekia berusaha untuk menjadi salah satu dari ujung tombaknya.

Alhasil, kontingen di sekolah kami selalu ditunggu-tunggu. Foto mereka dipajang dengan baliho besar. Medali mereka berjejeran di ruang utama sekolah, dan tentu saja: namanya akan dikenal hingga bertahun-tahun setelahnya.

Karena inilah, pendaftaran untuk Tim Olimpiade baru di bulan Oktober-November selalu ramai. Tidak sedikit yang mendaftar hanya untuk mencoba-coba dan mencari peruntungan. Banyak anak yang galau dengan pilihan bidangnya, galau dengan materi seleksi awal yang benyak nan berat. Banyak pula veteran OSN dari SMPnya dulu yang yakin dan percaya diri. Waktu itu semester pertama saya di Insan Cedekia, tahun 2009. Ya, diwaktu inilah semua impian dan mimpi dirangkai, berharap suatu waktu akan terkabul.

Poin pertama yang saya pelajari, bahwa semua hal berawal dari mimpi, harapan dan juga tujuan. Jika kita memimpikannya saja tidak berani? Mana ada cerita kita akan berani untuk bergerak dan mewujudkannya?


Belajar untuk Ibadah
Bahkan, sejak seleksi tingkat sekolah, persaingan sudah berat. Banyak anak yang sudah modar-mandir membawa buku-buku tebal berbahasa inggris setara bahan kuliah mahasiswa. Mereka selalu membacanya disela waktu perpindahan kelas ketika guru belum datang, disela istirahat, bahkan ada yang membacanya ketika sedang senam bersama di hari Sabtu pagi! –sambil senam-.

Ketika malam, seketika suasana di asrama seketika berubah; buku buku pelajaran umum untuk sementara disingkirkan, topik-topik pembiacaraan berubah menjadi teorema dan prostulat dari ahli-ahli ternama, hingga berburu materi dan belajar dari kakak kelas yang sudah berpengalaman tahun sebelumnya. Waktu itu saya memilih bidang yang merupakan kesenangan saya sejak lama, Astronomi. Disinilah balada perjuangan kami dimulai.

Islam, selalu mengajarkan ummatnya untuk terus menerus belajar, dimanapun dan kapanpun selama kita masih bernapas – Uthlubul ‘ilma walaw bishshiin - bahkan hingga negeri Cina. Pun demikian dengan semangat calon-calon Olimpian Insan Cendekia. Pada bidang apapun dan kapanpun kita belajar, tujuannya hanya satu; untuk membawa nama besar Islam, sebagai rahmatan lil alamin – rahmat untuk semesta raya salah satunya lewat jalan keahlian ummatnya yang pandai nan cerdas di berbagai bidang. Saya selalu berpikir, belajar adalah cara paling indah untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Alhamdulillah, dengan perjuangan yang panjang dan melelahkan, saya lolos dan terpilih untuk menjadi Tim Sekolah dalam kompetisi di Olimpiade Sains Kota/Kabupaten (OSK) pada tahun 2010. OSK adalah tantangan yang berat, karena banyak sekolah unggulan level nasional yang berlokasi berdekatan di kota kami. Dengan berbekal pelatihan berminggu-minggu lamanya, kontingen saat itu berjuang dengan keras untuk mengharumkan nama madrasah.

Poin kedua yang saya pelajari, bahwa semua hal yang berawal dari mimpi harus berani diwujudkan dan diperjuangkan. Mimpi itu setipis embun pagi, mudah untuk menguap dan hilang bagi kita yang bermalas-malasan. Mimpi itu juga sekuat baja dan besi, kokoh dan keras bagi kita yang berjuang tanpa kenal menyerah untuk menwujudkannya.


Batu Besar Bernama Kegagalan
Seusai perhelatan OSK tahun 2010, hari-hari setelahnya diisi dengan berdoa dan berdoa. Berdoa pada sebuah keajaiban agar bisa lolos ditahun pertama.

Hingga akhirnya sampai juga pada hari pengumuman. Dengan hati gaduh dan keringat dingin. Saya melihat papan pengumuman. Alhamdulillah peringkat lima! Yes! Dalam hari saya. Dari tahun ke tahun, kota kami selalu mengirimkan peringkat lima besar untuk berlaga di tingkat yang lebih tinggi, di Olimpiade Sains Provinsi (OSP). Maka dimulailah lagi balada perjuangan yang berat.

Menjadi kontingen Olimpiade di Insan Cendekia bukanlah hal yang mudah. Selain harus berjibaku dengan tuntutan akademik dan keasramaan sekaligus, kami memiliki tanggungjawab lebih untuk belajar materi Olimpade. Seringkali juga, jadwal lombanya bertabrakan dengan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS), yang berarti kami harus menyusul semua ujian kami dilain waktu. Bahkan beberapa orang, kebetulan diamanahi di OSIS ataupun kepanitiaan besar lainnya. Kombinasi beberapa hal ini yang sering membuat patah arang, tetapi saya percaya kita harus memperjuangkan semuanya yang terbaik.

Kami, para kontingen, benar-benar belajar dengan keras dan berat. Menghabiskan banyak waktu belajar di luar kelas secara mandiri, di perpustakaan, di laboratorium di manapun kami bisa untuk belajar. OSP tahun 2010 kebetulan bertepatan dengan UTS, yang membuat kami memiliki pilihan yang sulit; belajar Olimpiade atau Ujian. Tapi, saya meyakinkan diri saya, saya harus belajar Olimpiade dengan serius. Ujiannya nanti dipikirkan setelah lomba, batin saya dengan mental baja.

Hingga tanpa terasa hari demi hari berlalu, semakin dekat dengan perlombaan. Akhirnya ketika H-2 lomba munculah berita buruk: Keikutsertaan saya dibatalkan. Kota hanya mengirimkan tiga peserta terbaiknya tahun ini, yang berarti saya gagal untuk diikutkan. Mimpi terburuk bagi olimpian manapun yang sudah mengorbankan banyak, UTS dan Organisasinya, untuk sesuatu yang tidak terjadi. Begitu diberi kabar itu, dunia saya seakan runtuh, hati saya begitu teriris-iris. Ibarat diterbangkan begitu tinggi hanya untuk dihempaskan jauh kebawah, sakit dan sedih - sangat. Saat itu, saya berjalan dengan gontai ke asrama. Berusaha tidur untuk waktu yang lama, meratap sendu dalam diam dan berharap melupakan ini semua.

Poin ketiga yang saya pelajari, bahwa semua awal yang diperjuangkan kadang tidak meiliki akhir yang sesuai dengan harapan. Tidak semua doa yang kita ukir di langit, serta merta dikabukan oleh yang Maha Pencipta. Tetapi percayalah ketika kegagalan itu menghampiri, bahwa Allah pasti sudah menyiapkan segala sesuatunya yang terbaik untuk setiap hamba-Nya yang berusaha.


Fight back!
 Latihan Observasi Benda Langit di Insan Cendekia. Sumber Dokumentasi Pribadi
“Seseorang tidak dilihat bagaimana cara dia terjatuh, tetapi dilihat bagaimana cara dia bangkit.”
Setelah kegagalan menyakitkan pada tahun 2010, saya mencoba untuk bangkit dan berjuang kembali di tahun 2011. Amanah yang semakin besar di OSIS dan Acara tidak menyurutkan saya untuk terus berusaha. Belajar dari pengalaman di tahun tersebut, saya mempersiapkan dengan baik pada tahun 2011. Saya belajar Astronomi dengan sangat keras setiap harinya sampai-sampai hampir tidak menyentuk mata pelajaran yang lain. Waktu untuk istirahat dan bermain, yang awalnya sudah sedikit, benar-benar saya kurangi. Hanya menyisakan waktu untuk organisasi yang sangat saya cintai. Sekolah, OSIS dan sisanya Olimpade. Sesuatu pola yang akhirnya membentuk mental saya hingga saat ini.

Akhirnya OSK dan OSP yang tahun lalu gagal dapat dilalui. Alhamdulillah, sampailah pada perjuangan puncak di tingkat nasional. Pelatihan  menuju OSN menjadi pelatihan yang paling berat. Tidak mau gagal membuat saya mengurangi waktu tidur menjadi 3-4 jam dalam sehari, tidur cepat dan bangun sebelum subuh. Saya berhenti untuk ngobrol atau sekedar ngejagong bersama teman dan menggantinya dengan memperbanyak puasa, mengaji, sholat dhuha dan malam. Saya paham betul, saya tidaklah lebih cerdas dibandingkan banyak rekan dan pesaing saya yang lain. Prinsip saya hanya satu; saya harus lebih rajin dan lebih banyak berdoa daripada mereka. Apalagi rekan seperjuangan Astronomi saya sedari awal di Insan Cendekia, adalah salah satu orang paling jenius yang saya kenal. Dia selalu bisa menghafal lebih banyak atau menghitung kalkulus lebih cepat dari saya, sesuatu yang membuat saya bersyukur karenanya. Dia menjadi tandem saya yang tangguh – rekan belajar sekaligus kompetitor, membuat saya terpacu untuk belajar lebih jauh dan lebih banyak.

Selain belajar mandiri, kami menghabiskan banyak waktu di Perpustakaan dengan ‘surat sakti keluar kelas’, - surat yang paling saya ditunggu-tunggu, surat yang memungkinkan olimpian untuk tidak masuk kelas regular dan menggantinya dengan belajar mandiri diluar kelas.

Menjadi olimpian di bidang astronomi, membuat saya tidak hanya mengerjakan soal-soal kalkulus penuh integral dan turunan memusingkan. Astronomi juga menuntut saya untuk berjibaku dengan dinginnnya malam larut hingga pagi menjelang. Mengamati dan menikmati kebesaran Allah, milyaran benda-benda langit dengan kerlap kerlipnya yang subhanallah begitu indah, dengan teleskop di tengah gelapnya halaman sekolah.

Pelatihan demi pelatihan dijalani, hingga pergi meninggalkan sekolah untuk camp di Kota Bandung. Setelah semua perjuangan ini, akhirnya apa yang ditunggupun tiba. Olimpiade Sains Nasional Manado, 11-16 September 2011.


Sekarang atau Tidak Selamanya
Menjadi siswa kelas XII, menandakan tahun terakhir mengenyam pendidikan di bangku sekolah, juga menandakan akhir dari keikutsertaan saya di OSN ini. Ibarat dikata, ini adalah OSN yang yang pertama sekaligus yang terakhir, sekarang atau tidak selamanya. Menyadari hal itu, membuat saya benar-benar all out  untuk mengeluarkan segala hal yang saya bisa, berdoa sedalam dan sekeras mungkin, berharap langit bergetar dan mendengar.

OSN, secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, teori dan praktek, setiap bidang memiliki bentuk praktek yang unik tergantung kebutuhan masing-masing. Untuk bidang Astronomi, terdiri dari tiga bagian. Teori, pengolahan data dan praktikum dengan tingkat kesulitan sendiri-sendiri.

Teori, menuntut kami untuk bisa tangkas dalam berhitung analitik dan berpikir cepat. Kasus-kasus teranyar dari tiap bidang juga biasanya keluar. Ditambah, untuk Astronomi peringkat penilaian ditampilkan secara online yang berganti setiap beberapa jam. Sempurnalah rasa galau yang dialami peserta.

Pengolahan data, menuntut kami untuk tangguh dan rajin dalam mengerjakan soal statistika selama waktu empat jam dimalam hari, dimulai dari jam delapan malam dan diakhiri hingga jam dua belas tengah malam. Sejujurnya, teori yang digunakan hanya teori statistika sederhana anak kuliah, tetapi jika kita meleng konsentrasi sedikit, sudah dapat dipastikan buyar semua perhitungan dan konsep dalam benak.

Pengamatan, kami dituntut untuk menyelesaikan soal-soal observasi benda langit, diantara tingginya Gunung Lokon di Tomohon-Manado.

“Coba tunjukkan posisi Jupiter malam ini dengan teleskop yang sudah disediakan.” Ujar dewan juri memecah kesunyian malam tempat obeservasi kepadaku.

Dengan gugup aku melihat koordinat dari Jupiter di kertas ujian. Mengkalkulasikan sedikit di dalam otak, mengkonversinya dalam koordinat langit malam ini. Akhirnya dengan keringan dingin, campuran antara gugup dan udara malam Gunung Lokon, saya menggerakkan teleskop tersebut.

Setelah posisi dirasa tepat, saya mengintip di balik lensa okuler teleskop. “Gelap” hati saya mencelos. Saya mencari warna coklat indah yang biasa saya temui, tetapi kosong - hanya kegelapan yang saya temukan. Tidak ada tanda apapun yang dari Jupiter yang tampak di teleskop tersebut. Mengingat waktu tes observasi yang terbatas, mau tidak mau saya menyerahkan hasilnya pada juri.

“Yak, benar mas.” Kata juri. Waktu itu langit memang sedang mendung, dan tepat menutupi Jupiter yang membuatnya tidak telihat. Alhamdulillah hasil tes observasi saya menjadi salah satu yang paling tinggi.


Dimalam Penganugrahan
Setelah seminggu diperas fisik, lahir dan batin. Tibalah saat paling mendebarkan; malam penganugrahan. Semua sajian dan pertunjukan di malam ini terasa hambar bagi kami. Semuanya ditutupi oleh rasa gelisah dan berdebar menanti hasil setelah ini.

“Yak, pengumuman akan segera kita mulai.” Ujar MC disambut riuh rendah suara peserta. Ada yang semakin bersemangat, ada jalan-jalan menghilangkan gugup, hingga yang semakin dalam merapal doa. Semua memiliki harapan yang sama, semoga harapannya dan usahanya selama ini dikabulkan Sang Pengatur Segala.

Ketika, satu persatu nama disebutkan. Mulai pecah suara suara haru, lega dan tangis. Semua itu bersahut-sahutan antara mimpi yang terwujud dan mimpi yang belum tersampaikan. Hati kami yang bidangnya belum disebutkan semakin berdebar-debar.

“Bidang selanjutnya, Astronomi.” MC membacakan. Semakin membuat hati saya berdetak tidak karuan.
“Peraih medali perunggu: … ” ujar MC, dan nama saya tidak ada di dalamnya. Membuat hati saya semakin gelisah, saya tau dari pengumuman online bahwa teori saya nilainya standar, tidak bagus-bagus banget.
“Peraih medali perak: Muhammad Nabil Satria Faradis.”semua orang disekitar saya seakan meloncat. Saya tidak percaya mendengarnya, saya hanya bisa bersujud “Terimakasih ya Allah.” Syukur saya.
Ditambah lagi, teman seperjuanngan saya mendapat medali emas. Sempurna. Kita berjalan bersama menuju pangung pennganugrahan itu.


Diatas Panggung Kemenangan
Dan di panggung penganugrahan media OSN di Manado kala itu, dengan medali impian tergantung di leher, seharusnya saya merasa bahagia. Tetapi, entah mengapa, rasanya tak seperti yang selama ini saya bayangkan. Meskipun adik saya, yang kini menjadi Insan Cendekia angkatan 21, juga mendapat medali OSN mewakili MI kami di Jawa Timur sana. Seharusnya semuanya menjadi sempurna.
Tetapi, seperti ada sesuatu yang kurang, tak lengkap, keanehan yang tidak bisa dijelaskan. Hingga di dalam pesawat sepanjang perjalanan pulang, saya terus bertanya-tanya apalah gerangan yang menyumbat rasa bahagia dan senang ini.


Prestasi untuk Dakwah
Jawabannya muncul saat saya kembali ke sekolah saya, MAN Insan Cendekia. Meninggalkan tempat pelatihan, dan kembali ke sekolah dan asrama yang sudah lama saya tinggalkan. Saat teman-teman dan guru-guru menyambut, sumbat rasa haru itu seolah lenyap. Rasa lelah dan penat usai berbulan bulan pelatihan, mulai dari saya masih tahun pertama, hingga saat itu tahun terakhir tak lagi terasa. Saat itulah saya menyadari bahwa alasan sesungguhnya di balik seluruh perjuangan ini bukanlah sekeping medali, tetapi bagaimana kita menerbitkan senyuman pada orang-orang yang kita cintai.

Saya tersadar bahwa pencapaian yang kami dapat, prestasi itu, bukan semata-mata milik kita. Banyak usaha-usaha orang lain yang turut serta di belakang. Orang tua yang turut mendukung dalam doa, guru-guru yang tidak pernah lelah mendukung kami, Pimpinan Madrasah yang mengusahakan dan memotivasi kami, semua tutor-mentor pengajar dan kakak kelas yang membagikan ilmunya kepada kami, hingga teman-teman yang tidak terhitung berapa kali banyaknya memberi kami semangat ketika kami payah dan tempat bersandar ketika kami lelah. Ketahuilah bahwa medali itu dipersembahkan untuk kalian semua.

Poin keempat yang saya pelajari, bahwa tidak ada kesuksesan karena diri kita sendiri. Semuanya, adalah rangkaian panjang peluh dan doa dari banyak orang, yang membuat malaikat tersipu dan langit bergetar mendengarnya. Kombinasi banyak hal yang membuat Sang Penguasa tidak tega untuk mengabaikannya.

Hingga saat ini, saya bersyukur pernah berada dalam kontingen olimpian yang luar biasa saat itu. Saling mengingatkan untuk terus berdoa, membangunkan di malam hari, hingga sahur bareng di kantin malam-malam. Bersama mereka, kami mendapat 3 emas dan 5 perak pada OSN 2011. Rekor perolehan medali tertinggi Insan Cendekia hingga tulisan ini dibuat. Perolehan yang mengantarkan Man Insan Cendekia Serpong menjadi sekolah dengan perolehan medali OSN terbanyak di Indonesia saat itu. Prestasi bersama yang menggetarkan banyak pihak: sekolah islam bisa juga kok menggapainya, alhamdulillah.

Poin terakhir yang saya pelajari. Ini bukanlah akhir, ini adalah awal. Saya percaya, manusia yang terbaik adalah manusia yang bisa bermanfaat sebanyak mungkin bagi orang lain - Khairunnâs Anfa’uhum lin nâs. Semakin banyak nikmat dan berkah yang kita dapat, semakin besar pula kebermanfaatan yang harus kita berikan. Mungkin itulah jalan yang Sang Rabb siapkan untuk kita, jalan dakwah dari prestasi yang sudah Ia titipkan kepada kita.
Peraih Medai OSN dengan Menteri Agama, Suryadharma Ali Sumber www.kemenag.go.id


Jalan Masih Panjang
OSN bukanlah akhir, perjuangan selanjutnya adalah menghabiskan berbulan-bulan tahun terakhir MAN saya di Bandung, ITB dan Boscha. Demi tujuan merebut tempat menjasi 1 diantara 5 orang perwakilan Indonesia dalam Internasional Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) di Rio de Janeiro, Brazil 2012 dan juga International Astronomy Olympiad IAO di Gwangju, Korea Selatan 2012. Berjuang mengalahkan 30 orang medalist OSN, bukan perkara mudah. Pada Pemusatan Pelatihan Nasional (Pelatnas) tahap pertama, saya beruntung masuk 15 besar untuk masuk seleksi tahap kedua. Pelatihan  tahap kedua menjadi pelatihan maha-berat, puncak pemilihan untuk menjadi Duta Indonesia dalam ajang Internasional tersebut. Sayangnya, waktu itu Allah berkehendak lain. Setidaknya, masih ada wakil Insan Cendekia di bidang lain yang mendapatkan Perunggu di International Olympiad in Informatics (IOI) Itali 2012.


Medali Itu
Ya. Dulu, medali itu bergitu saya dambakan, begitu saya inginkan. Berbulan-bulan meninggalkan sekolah dan orang-orang yang saya cintai. Tetapi, kini rasanya seperti medali kosong. Medali yang sesunguhnya adalah semua kisah indah yang merangkai semua perjalanan ini. Pada setiap detiknya, pada setiap langkah yang dibuat, pada setiap detail yang terjadi. Bertemu orang-orang hebat dari seluruh Indonesia, mengalami hal-hal yang luar biasa yang belum pernah diimpikan sebelumnya, hingga semua tangis haru dan tawa itu.

Medali yang sesunguhnya adalah ketika melihat ayah, ibu, guru-guru dan teman-teman menyambut kita dengan bangga. Senyuman di bibir mereka, bisa berkontribusi lebih dan bermanfaat untuk orang lain, itulah seindah-indahnya medali. Sesuatu yang lebih berharga dari sekeping logam berwarna perunggu, perak ataupun emas. Dan saya bisa bersyukur diberi kesempatan untuk mendapatkannya, sebuah perjalan yang dimulai dari dan bersama kalian.


Sebuah Jawaban
Setelah melamun sekian lama, akhirnya bibir ini mulai menjawab. “Hehe, tau enggak sob. Belajar itu untuk ibadah dan Prestasi itu untuk dakwah.” Jawabku sambil tersenyum lebar.

*tulisan ini didedikasikan untuk orangtua, guru-guru, teman-teman angkatan Gycentium Credas Disorator, adik kelas dan kakak kelas, rekan seperjuangan dan semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Ketahuilah, tanpa kalian, cerita ini tidak akan pernah ada.


Untukmu,
Yogyakarta, Maret 2016


Muhammad Nabil Satria Faradis

*tulisan ini diterbitkan di buku dosmistory, bagi yang ingin memesan, bisa pesan di http://bit.ly/PesanDormistory2

Share this:

CONVERSATION

1 comments: